Rabu, 05 Desember 2012

Bonsai serut # 4, inspirasi dari sebuah bencana

Malam itu hujan turun dengan derasnya, petir dan kilat menyambar saling bersahutan, dan gelegar suara guntur bahkan membuat binatang binatang hutan tercekat tak berani mengeluarkan suara. Gelapnya malam makin pekat, air yang tertumpah dari udara semakin bertambah derasnya, dan suara aneh berderak, kian bergemuruh seiring detik demi detik.

Bumi seperti bergetar, sebuah bukit yang setengah gundul akibat pembalakan liar mulai retak di sebagian sisinya, tiba tiba tanah bagian atasnya ambrol dan bergerak turun dengan kencangnya. Menerjang apapun yang berada dibawahnya. Pepohonan yang tersisa tak mampu menahan hempasan amuk sang alam, tercerabut dan tercerai berai, terseret ribuan kubik tanah dan terdampar pada titik nadir kaki bukit.

breberapa minggu kemudian, sebuah pohon mencoba bangkit dari keterpurukan, terbaring terendam sebagian batangnya ke dalam tanah, tunas tunas kecil membawa harapan akan kehidupan baru dari tubuh pohon yang sebagian rusak, patah, terkoyak dan mulai lapuk. Waktu demi waktu, cabang baru mulai membesar, meliuk bangkit kearah datangnya cahaya matahari. Dan tak terasa, dalam hitungan tahun, pohon tersebut telah kembali hadir menantang kerasnya alam dengan bentuk yang berbeda.

Cerita picisan diatas hanya selingan, supaya sobat sekalian bisa mengamini ide desain bonsai serut nomer tiga ini. Jujur, sudah lama saya dibuat pusing sama bonggol buruk rupa ini. Batangnya kacau, akarnya ga jelas, dan tak elok dilihat. Diputar puter, di tekak tekuk, berkali kali saya menyerah, karena tidak dapat ide. Dan akhirnya saya diamkan saja.

Hingga beberapa waktu lalu, saya melihat berita, tentang tanah longsor, yang juga memakan korban jiwa di beberapa tempat di negeri tercinta ini. Miris, prihatin dan turut berduka kepada seluruh korban tanah longsor. Tapi juga akhirnya terbersit sebuah ide, melihat gambar pohon yang tertimbun tanah longsor.

Silahkan simak gambar rekam jejak transformasi episode pertama dari serut buruk rupa, menjadi putri tidur yang cantik.....hehe, lebay.













saatnya baki semen karya sendiri bertugas

...............................................bersambung ke episode selanjutnya

Senin, 03 Desember 2012

Teknik bonsai deadwood / kayu mati ( bag 6 )


Teknik kayu mati yang terakhir adalah tanuki. Prinsip dari tanuki adalah menggabungkan pohon hidup ke bagian yang menarik dari kayu yang sudah mati yang sudah di awetkan, sehingga terlihat menjadi satu kesatuan utuh.

Untuk menambahkan pohon hidup ke dalam kayu mati, biasanya dibuat semacam alur atau saluran kedalam kayu mati tersebut. Pohon hidup, ( biasanya spesies juniper yang masih muda ) dimasukkan ke dalam alur tersebut lalu di patenkan dengan menggunakan sekrup, kawat atau klem. Seiring waktu, pohon muda tumbuh membesar dalam saluran tersebut dan menyamarkan fakta bahwa pohon tersebut adalah entitas yang berbeda. Sesudah pohon muda menyatu, maka alat pengikat seperti sekrup atau lain lainnya dihilangkan, dan pohon hidup tetap dirawat dan dibentuk selayaknya bonsai biasa.


Dalam cerita rakyat jepang, tanuki merupakan sebutan untuk anjing rakun Jepang yang bisa menyamar dengan berubah bentuk. Mungkin dalam peribahasa kita disebut dengan serigala berbulu domba, hehehehe.


Teknik bonsai tanuki tercipta untuk mensiasati sulitnya mendapatkan material pohon hidup berkayu mati di alam bebas. Di kalangan bonsai barat, teknik ini disebut juga phoenix graft, dan diterima sebagai bagian dari seni bonsai.

Dalam tradisi bonsai tradisional jepang, teknik ini tidak diterima, sehingga tidak ditampilkan dalam pameran bonsai resmi.

Untuk memahami teknik bonsai tipu tipu ini, mari kita saksikan gambar gambar di bawah ini









___________________________________________________________________________________


Foto di bawah ini adalah proses pembuatan bonsai tanuki yang saya kutip dari http://www.bonsai4me.com



tahun 2002
tahun 2004
tahun 2004
tahun 2005
tahun 2006
tahun 2009


Meskipun terkesan tipu tipu dan instan, jika kita melihat proses di atas, tetap saja membutuhkan kesabaran dan ketelitian.

Posting ini sekaligus menutup pembahasan tentang teknik deadwood atau kayu mati, semoga menambah perbendaharaan ilmu buat saya khususnya, dan terutama buat sobat sekalian para bonsai mania.

Sampai jumpa di posting posting berikutnya, salam bonsai.

Artikel teknik deadwood sebelumnya :


Rabu, 28 November 2012

Bonsai kawista # 2, kontet dalam sekejap

Sore sore, celingak celinguk, cari sasaran buat dikawatin, pilihan hari ini jatuh pada si kawis nomer dua.

Tumbuh kurus tinggi langsing, kurang lebih berdiameter sama dengan kawis nomer satu, dipotong juga sayang, akhirnya ketemu juga ide untuk membuat si kutilang jadi kontet, hehehe, biar sekalian body language nya lebih nendang, saya bikin gaya mlungker, macam cacing kepanasan.

Kawista muda sangat lentur, relatif tahan untuk di bengkokkan secara ekstrim, tapi untuk mengurangi resiko patah, maka saya bebat selotip kabel sebelum di tekuk.

Silahkan sobat amati jepretan kamera butut saya berikut ini













Senin, 26 November 2012

Teknik deadwood / kayu mati ( bag 5 )

Teknik kayu mati berikutnya adalah sabamiki, secara harfiah, sabamiki berarti batang berlubang atau batang yang terbelah.

Sabamiki menggambarkan efek visual dari batang yang mengalami kerusakan batang mendalam yang parah, yang telah mengalami pelapukan seiring berjalannya waktu akibat sambaran petir atau oleh sebab yang lainnya.

Teknik sabamiki dlakukan dengan cara mengupas kulit batang yang dilanjutkan dengan pengeboran atau pengukiran hingga ke dalam bagian kayu, dan area yang berlubang bisa dimulai dari dasar pohon ke arah bagian atas, atau hanya separuh baian batang. Luka dari dari hasil pengeboran tidak boleh memotong dan mengganggu aliran nutrisi pada tanaman, karena jika hal tersebut terjadi, maka cabang cabang di atasnya akan mati.

Setelah proses pengukiran selesai, daerah luka pada kayu di olesi dengan pengawet.

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak bersama gambar gambar di bawah ini.

















Inspirasi sabamiki dari alam liar






bersambung lagi ya sob dan masbro sekalian.......


Artikel teknik deadwood sebelumnya :


Rabu, 21 November 2012

Bonsai kingkit # 2, cacing kremi senam pagi


Geregetan, jengkel dan hilang kesabaran saya, melihat si cacing ini malas banget untuk tumbuh besar, padahal lama sekali saya rawat kingkit ini dengan telaten, saya sediakan menu gizi yang seimbang, dan telah berhasil membuat teman teman bahan lainnya seperti serut, asem, loa dan sancang tumbuh gemuk dan subur. Yang ada, si kingkit kremi malah tumbuh kurus dan jangkung, ya sudah lah, mumpung masih pagi, saya ajak si cacing kremi untuk senam pagi, tekuk sana tekuk sini, goyang kesana goyang kesini, biar otot ototnya lentur, dan siap untuk mejeng di pekarangan.






sebelum stretching, pake selotip, biar ga keseleo

yakk, cium lutut....tahan tahan

sipp, dah keringetan, waktunya cooling down


Senin, 19 November 2012

Teknik bonsai deadwood / kayu mati ( bag 4 )

Setelah memhami teknik jin dan uro, sekarang kita beranjak pada teknik kayu mati berikutnya, yaitu shari.

Pengertian shari adalah kayu mati yang terbentuk pada batang utama bonsai. Sebuah shari kecil biasanya berbentuk secara vertikal pada bagian depan batang. Shari memiliki nilai estetika yang kecil jika terbentuk di belakang batang, dimana jarang dilihat atau dikaburkan oleh pertumbuhan cabang.

Luka dangkal memperlihatkan bagian mati, yang dikelilingi oleh kulit hidup. Penyebab alami shari di alam liar biasanya terbentuk akibat cabang yang jatuh hingga merobek kulit batang bagian bawahnya, bisa juga akibat dari petir atau sebab sebab lainnya. Sebuah shari bisa terbentuk secara alami pada bonsai, dan bisa juga dibuat dengan mengukit kulit kayu.

Jika bentuk batang yang mati cukup besar, bonsai tersebut bisa dikategorikan pada gaya bonsai sharimiki.


Foto inspirasi shari dari alam liar















bersambung


Artikel teknik deadwood lainnya

Prakarya pot semen made in sendiri

Buat pecinta bonsai dengan kantong pas pasan dan agak pelit seperti saya, urusan membeli pot yang canggih, mantep, artistik dan keren, adalah persoalan rumit, hhehehe. Jangan berbicara dulu tentang pot keramik yang harganya naudzubillah itu, untuk belanja pot semen jadi saja sudah mengurangi jatah jajan, hahhaha.

Tapi urusan bonsai harus terus jalan, kebetulan ada sisa pasir dan semen, sayang kalo tidak terpakai.

Posting ini bukan untuk mengajari sobat sekalian caranya bikin pot lho ya, apalagi hasil karya saya juga setaraf dengan prakarya anak TK, masih berantakan, tapi lebih mengajak sobat sekalian untuk tidak menyerah dengan keadaan, dan juga lebih kreatif dalam memanfaatkan barang barang di sekitar kita, dan saya yakin hasil karya sobat semua pasti lebih mantap.

Monggo dilihat hasil utak atik saya yang suka kurang kerjaan, dan saya ikhlas atas segala caci maki untuk hasil prakarya saya yang tak sedap dipandang mata,..hahaha

Terus berbonsai sobat, selama hayat masih di kandung badan.