Tampilkan postingan dengan label Lain lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lain lain. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Oktober 2013

Artikel Robert Steven : Teori Dimensi, Komposisi & Perspektif Dalam Seni Bonsai

Relevansi Teori Dimensi, Komposisi & Perspektif Dalam Seni Bonsai

Dalam seni bonsai, kita sering berbicara mengenai dimensi, komposisi dan perspektif; sebenarnya apa pengertian dan bagaimana penerapannya dalam seni bonsai secara konkrit ?

Ketiga unsure tersebut adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam estetika seni bonsai, saling berkaitan dalam praktek mulai dari training awal sampai pemilihan wadah tanam yang dipakai serta menataan kontur tanah dan pemakaian lumut.

Dimensi. Dimensi adalah ruang yang ditempati oleh fisik suatu benda. Kita mengenal benda bertiga-dimensi dan dua-dimensi. Suatu benda disebut 3-dimensi bila fisik benda tersebut menempati ruang dalam tiga orientasi berupa tinggi, panjang dan lebar (cont.: Bonsai); dan suatu benda disebut 2-dimensi bila fisik benda tersebut hanya menempati dua orientasi ruang, contohnya lukisan yang hanya menempati dua orientasi ruang.

Komposisi. Komposisi adalah tata letak dan susunan satu atau beberapa objek dalam suatu ruang tertentu; ruang tersebut bisa dalam bentuk 3-dimensi atau 2-dimensi.

Perspektif. Perspektif adalah persepsi pandangan kita terhadap suatu objek yang kita lihat dalam bentuk 2-dimensi. Secara sederhana bisa kita contohkan sebagai berikut :
Bila kita melihat dengan 2 belah mata sebuah pemandangan danau dengan gunungnya, efek yang kita lihat adalah 3-dimensi ; tetapi bila kita tutup sebelah mata kita dan hanya melihat dengan sebelah mata, maka efek pemandangan yang kita lihat adalah 2-dimensi dan kesan jarak antara danau dan gunung yang kita persepsikan adalah perspektif belaka karena kita kehilangan orientasi lebar. Demikian juga yang kita lihat dalam foto atau lukisan.
Jadi perspektif adalah persepsi ilusi orientasi kedalaman ruang dalam bidang pandang 2-dimensi, atau rekayasa ilusi untuk menciptakan persepsi ruang yang lebih dalam dari yang sebenarnya pada objek 3-dimensi.

Saat kita berbicara mengenai seni Bonsai, kita tahu bahwa percabangan adalah elemen untuk membentuk dimensi; perantingan dan perdaunan adalah elemen untuk membentuk komposisi; dan tata-letak serta konfigurasi penataan percabangan, perantingan, perdaunan serta tajuk secara keseluruhan dapat membentuk perspektif desain. Tata-letak serta konfigurasi elemen-elemen tersebut di atas dapat membentuk ilusi pada aspek volume pohon serta ilusi dimensi ke-tiga. Sekarang muncul pertanyaan : Bonsai adalah benda 3-dimensi, sedangkan perspektif adalah suatu konsep untuk bidang 2-dimensi, bagaimana mungkin ?

Penjelasannya adalah sebagai berikut :
Bonsai adalah objek 3-dimensi yang kita nikmati atau kita pandang dalam kontekd 2-dimensi karena kita selalu tentukan satu sudut tertentu sebagai “depan”. Saat kita menentukan cabang untuk membentuk dimensi, tujuannya adalah untuk membentuk orientasi tinggi rendahnya cabang, panjang pendeknya serta orientasi lebar ke seluruh arah.
Tetapi dalam penataan 3-dimensi tersebut, kita harus mampu membentuk sehingga tata-letaknya dapat membentuk suatu “perspektif” yang merefleksikan keharmonisan saat kita melihat bonsai tersebut dari satu sudut pandang tertentu atau dengan sebelah mata (2-dimensi), atau hasil foto; karena objek bonsai tersebut berada dalam suatu bingkai sempit yang membatasi pandangan kita saat kita memandang dari depan (satu titik pandang). Oleh sebab itu, sering ada bonsai yang apik saat dilihat langsung, tetapi kurang indah saat difoto.

Saat kita membentuk ranting dan daun untuk garis canopy, yang kita perhatikan adalah bagaimana menyusun ranting, anak ranting serta daun supaya menciptakan suatu tata ruang yang harmonis dan berimbang saat kita memandang bonsai tersebut dari sudut pandang tertentu dalam suatu bingkai pandang.
Demikian juga saat kita meletakkan bonsai tersebut pada wadah tanamnya, sebenarnya yang kita ciptakan adalah keharmonisan dan keseimbangan penampilan, bukan saja dalam pandangan 3-dimensi, tetapi juga pada pandangan datar yang di dalam seni lukis disebut “Picture Plane”.

Bila kita membuat sebuah karya bonsai gaya grouping dengan susunan perbukitan, batu-batuan, sungai atau jalan setapak, di sini kita dituntut untuk menguasai hukum perspektif supaya tata ruang dalam wadah yang sempit tersebut tetap dapat mencerminkan panorama yang terkesan mempunyai kedalaman yang lebih jauh.


"Susunan dan setting semua elemen pohon tersebut beserta wadah tanam menciptakan komposisi desain. Konfigurasi percabangan dan perantingan dengan pengarahannya menciptakan dimensi pohon; tetapi dengan tata-letak tertentu, termasuk over-lapping percabangan dan kontur tanah, kita dapat menciptakan efek perspektif yang indah dengan ilusi kedalaman yang nyata walau hanya dilihat dari foto. Warna dan kontur adalah bagian dari elemen yang dapat dipakai dalam teori perspektif."


Yang menarik adalah, kenyataannya teori perspektif sudah terlihat pada lukisan Cina dari abad-11 (dinasti Sung) walaupun belum sempurna secara matematik; sedangkan pada lukisan Jepang, teori tersebut baru muncul mulai abad-14. Teori ini mulai dikenal secara ilmiah pada jaman Renaissance dengan teori “Linear Perspective”, kemudian baru berkembang pesat di abad-15 pada jaman Romawi berjaya khususnya teori “Curvilinear Perspective” yang ditemukan oleh Leonardo da Vinci.

Hukum perspektif : “ Semakin menjauhnya suatu objek, maka akan semakin mengecil hingga pada titik di mana objek tersebut menghilang – disebut “Vanishing Point” (VP) di mana dari titik tersebut ditarik garis linearnya. Garis horizon (Horizon Line) juga sangat mempengaruhi perspektif, semakin rendah letak Horizon Line (HL), objek akan semakin terkesan tinggi dan monumental. Konsep tersebut berlaku untuk seni Bonsai pada tinggi rendahnya titik pandang kita, dan hal ini berpengaruh langsung pada pengaturan dimensi serta komposisi cabang dan ranting.

Kita sering memakai istilah “ nge-pen “ dalam menjelaskan bentuk batang yang mengecil dari bawah ke atas pada sebuah Bonsai, kemudian menurut text-book, ukuran cabang harus semakin mengecil ke bagian atas dan letaknya juga harus semakin mendekat. Apa maksud dari aturan tersebut ?
Salah satunya adalah alasan hukum perspective, dengan asumsi kita selalu melihat pohon dari bawah ke atas pada jarak yang relatif dekat, sehingga letak dan jarak setiap cabang mulai dari bawah ke atas akan kelihatan semakin mendekat dan ukuran batang akan kelihatan semakin mengecil ke atas.

Temuan “Curvilinear Perspective” sangat berguna bagi seni Bonsai karena wadah tanam Bonsai sangat sempit dan bingkai pandang kita sangat terbatas terutama dalam tehnik gaya Grouping.
Dengan teori “Curvilinear Perspective”, penataan dapat dimanipulasi dengan distorsi sudut pandang sehingga efek pandangan terkesan luas dan kedalaman terkesan lebih jauh. Efek tersebut sama dengan bila kita memotret dengan memakai lensa “wide angle”.

Komposisi pada seni bonsai, sama juga dengan seni lukis yang percaya bahwa konsep asimetris tetapi berimbang adalah bentuk yang paling dinamis dan tidak membosankan, termasuk teori komposisi “Dramatic Diagonals”; demikian juga bingkai pandang yang dikenal dengan rumus “Golden Rectangle”. Dalam hal ini, “Visual Balance” yang dicari.
Sebenarnya saat kita training cabang dan ranting, terutama bonsai Cina gaya “Lingnan”, sering sekali diterapkan teori “Cuvilinear Composition” untuk mendramatisir suatu gaya secara alamiah.

Masih banyak sekali yang bisa kita pelajari dari teori dan konsep dimensi, komposisi dan perspektif, dan seyogianya dikuasai oleh para seniman bonsai karena sangat relevan dan berfaedah bagi pengembangan karya seni bonsai yang kita tekuni sehingga pijakan kita lebih solid.
Mari kita bersama-sama menggali lebih dalam, karena semakin banyak yang kita pelajari, sepertinya semakin banyak yang belum kita pehami !..terbukti seni bonsai adalah seni multi-disiplin.

** Baca juga artikel “Konsep & Tehnik Pembuatan Shuihan Penjing”


Catatan :

Bila anda memiliki kaca-mata 3-D yg berwarna merah-biru, anda dapat melihat foto di bawah ini dalam efek 3-dimensi dengan komposisi dan perspektif yang jelas...


 Artikel ini ditulis oleh Robert Steven di Forum Hobby Indonesia

Selasa, 24 September 2013

Artikel Robert Steven : Program Kontes Yang Dapat Meningkatkan Mutu Bonsai Nasional

Program Kontes Yang Dapat Meningkatkan Mutu Bonsai Nasional

Bonsai adalah karya seni, lalu mengapa karya seni dapat dikonteskan ? Pertanyaan ini sering kita dengar; lalu apa jawabannya ? Apakah kontes bonsai diadakan sebagai ajang pamer keterampilan, ajang mencari kebanggaan dan kepuasan pribadi (mampu membeli bonsai mahal), sekedar ajang berdagang ataukah sebagai suatu kegiatan berkesenian untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan, mencari barometer pembanding demi untuk lebih meningkatkan mutu bonsai nasional ?

Apapun jawabannya, yang pasti ada manfaat positif nya terutama dalam peningkatan mutu perbonsaian nasional dengan segala kepentingan masing-masing, kepentingan yang saling menunjang dan saling membutuhkan; dan selanjutnya dengan mutu yang semakin baik akan membawa manfaat bagi semua lapisan pecinta seni bonsai nasional.
Tetapi kontes yang bagaimana yang dapat meningkatkan mutu perbonsaian nasional sekaligus menciptakan sinergi terpadu secara nasional ? Jawabannya adalah kontes yang terprogram secara nasional yang dapat menghasilkan tolok ukur mutu bonsai secara nasional, dan yang dapat dilihat secara kasat mata perkembangan dari tahun ke tahun.

Apakah sistem penjurian dapat meningkatkan mutu bonsai nasional ? Menurut saya sama sekali tidak !
Sistem penjurian hanyalah alat dan metode pada suatu kontes tertentu, kwalitas juri malah jauh lebih penting dari pada apapun sistem yang dipakai.

Kontes yang kita lakukan sekarang jelas tidak terprogram, mungkin ada misi, tetapi tanpa visi. Semua kontes yang dilakukan oleh masing-masing daerah adalah terpenggal-penggal tanpa tujuan. Selalu ada istilah kontes nasional, tetapi apakah kontes tersebut benar mencerminkan skop nasional ? Jangankan nasional, provinsi saja belum tentu; lalu tolok ukur nasional yang bagaimana yang terbentuk ? Juara nasional yang di mana yang mencerminkan mutu bonsai nasional kita ?

Lalu seharusnya bagaimana ?
Seharusnya setiap kontes yang diadakan oleh masing-masing daerah adalah merupakan seleksi yang kemudian akan mengkrucut ke kontes nasional; dan kontes nasional seharusnya diadakan oleh pusat hanya satu tahun sekali.

Bonsai mana yang boleh ikut dalam kontes nasional ? Ini sekedar masalah teknis seleksi yang sederhana, bisa dengan cara pembagian quota sesuai dengan kondisi setiap daerah. Dengan demikian, setiap anggota di daerah akan berlomba-lomba meningkatkan mutu bonsai mereka pada kontes daerah, supaya bisa terseleksi untuk ikut ke kontes nasional. Dengan demikian, jangankan menang, bisa masuk seleksi saja sudah merupakan kebanggaan; dan dengan demikian, tolok ukur mutu bonsai nasional dapat dengan jelas terlihat dan terukur perkembangannya..dan yang paling penting lagi, jelas mencerminkan mutu bonsai nasional.
Sistem ini sudah dilakukan di banyak negara, bahkan bukan lagi nasional, tetapi regional seperti Eropah.
Sistem ini sudah sering saya utarakan sejak saya masih dalam kepengurusan pusat, tetapi tidak pernah ditanggapi.

Bagaimana dengan kontes kelas madia dan utama ? Menurut saya, ini boleh saja karena merupakan tahapan seleksi untuk menuju ke jenjang yang lebih tinggi, sekaligus untuk merangsang mereka yang bonsainya belum terlalu bagus, tetapi tetap dapat mengikuti kontes dan memenangkan penghargaan untuk selanjutnya meningkatkan mutunya secara berjenjang.

Bagaimana dengan kontes bahan prospek dengan alasan untuk memberi kesempatan dan semangat kepada pemula ? Menurut saya, ini adalah cara akal-akalan yang tidak mendidik, malah sebaliknya menciptakan kondisi pembodohan kepada pemula. Ini adalah ide yang menggampangkan untuk sekedar menyenangkan orang tanpa memikirkan efek jangka panjang terhadap perkembangan perbonsaian nasional, bahkan merupakan pelecehan terhadap seni bonsai.

Ada juga yang beralasan supaya panitia bisa mencari dana tambahan dari uang pendaftaran karena biaya yang dikeluarkan cukup banyak dan sering rugi. Saya sama sekali tidak dapat menerima alasan ini karena banyak cara untuk mencari dana termasuk sponsor; dan kalau tidak mampu dan tidak ada penyandang dana untuk menalangi kerugian, ya jangan adakan acara, atau cari cara lain sesuai dana yang ada tanpa harus mengorbankan perbonsaian nasional. Di mana mana di seluruh dunia, kalau sudah bersedia menjadi ketua cabang ya sudah harus siap bekerja keras, mengabdi, berkorban dalam dana dan raga; di sinilah letak bukti kemampuan memimpin.

Ada yang mengatakan kenapa tidak, syah-syah saja selama tidak ada yang dirugikan, malah menguntungkan pedagang dan pemula. Menurut saya, ini adalah pemikiran yang “ignorant”, dangkal melalui jalan pintas tanpa berusaha berpikir. Kalau alasannya adalah untuk memberi semangat kepada pemula, merangsang pemain baru, memberi peluang kepada pedagang…banyak cara yang bisa dilakukan dengan lebih baik, lebih mendidik dan lebih efektif.

Salah satu contoh konkrit yang sudah dilakukan di Indonesia, yaitu di pameran/ kontes di Sumenep pada bulan Mei 2011. Saat itu saya diminta untuk menjadi penasehat panitia. Saat saya tahu bahwa rencananya akan ada kontes bahan prospek, saya menentang keras dan mengusulkan cara lain untuk merangsang semangat pemula, yaitu kontes sketsa desain bonsai. Kami pamerkan beberapa bahan yang berbeda, lalu peserta diminta untuk membuat sketsa desain yang menurut mereka cocok dan bisa dibuat dari bahan tersebut. Yang kami nilai bukan keterampilan sketsa, tetapi ide, kreativitas dan kemungkinan logika dari desain tersebut.

Ternyata animo persertanya sangat luar biasa, hampir semuanya pemula, dan hasil sketsa juga menampilkan ide-ide cemerlang dan kreatif. Cara ini terbukti efektif untuk merangsang minat dan kreativitas, dan rasa kebanggaan jauh lebih positif dari pada menang kontes bahan yang tidak mendidik dan tidak mencerdaskan.

Ide ini sebenarnya dapat dikembangkan lebih lanjut; misalnya setiap peserta bisa ikut dalam kontes dengan bahan yang mereka miliki, tetapi harus disertai dengan sketsa desain yang sederhana. Lalu juri menilai faktor kreativitas dan kemungkinan logis desain tersebut, bukan bahannya yang dinilai ! Cara ini jauh lebih mendidik, menyenangkan sekaligus menguntungkan semua pihak. Peserta dapat belajar berimajinasi dan berkreasi, bahan dapat dijual karena calon pembeli bisa melihat prospek desain dari bahan tersebut, apalagi kalau menang penghargaan, dan panitia juga tetap bisa mendapatkan uang pendaftaran.

Dalam setiap pameran, kalau organisasi mempunyai visi jauh, juga dapat dilakukan lomba untuk merangsang minat bonsai kepada generasi muda dan generasi penerus, khususnya anak-anak. Banyak cara, antara lain dengan lomba melukis bonsai yang dipamerkan, atau lomba mewarnai gambar bonsai dan lain-lain. Bisa dengan bekerja-sama dengan sekolah TK atau SD, lalu cari sponsor untuk berjualan dagangan jajanan (atau panitia yang adakan sendiri) karena ramai anak-anak...dan hasilnya adalah dana tambahan.

Masalah kita adalah apakah “mereka-mereka” itu mempunyai misi dan visi, mau berpikir dan mempunyai niat kepedulian melakukannya ? Walahualam…..




Artikel ini ditulis oleh Robert Steven di Forum Hobby Indonesia

Selasa, 17 September 2013

Artikel Robert Steven : Konsep & Tehnik Pembuatan Shuihan Penjing

Shuihan Penjing adalah salah satu gaya dalam Penjing Cina yang sangat popular dengan menampilkan panorama alam bernuansa tepi danao atau sungai. Keunikan Shuihan Penjing terletak pada pemakaian wadah tanam berupa pot tipis yang terbuat dari marmer putih untuk mempertegas kesan permukaan air pada karya tersebut.


Shui = Air, Han = Daratan; Shuihan Penjing = Penjing yang menampilkan pemandangan air dan daratan.
Shuihan Penjing adalah salah satu gaya dalam Penjing Cina yang menampikan suatu panorama alam bernuansa tepi danao atau sungai dengan elemen pohon sebagai objek utama.

Filsafat dasar dari Shuihan Penjing adalah “Yuan yi zi ran, gao yi zi ran” (Inspirasi dari alam dan mengacu pada kesempurnaan alam).
Konsep dasar Shuihan Penjing adalah menampilkan suatu cuplikan panorama alam yang menggambarkan pohon-pohon yang tumbuh di daratan pinggir danao atau sungai; dan elemen air tersebut direpresentasikan dengan ruang kosong dasar wadah tanam, biasanya memakai pot tipis yang terbuat dari marmer putih.
Untuk mempertegas kesan air yang dalam, biasanya dipakai bebatuan yang bagian bawahnya dipotong rata dan kemudian ditempelkan ke dasar wadah untuk membentuk garis pinggir sungai ataupun pulau-pulau kecil. Dengan bentuk bebatuan demikian, terkesan sebagian batunya berada di bawah permukaan air sehingga walaupun tidak ada air benaran, ilusi permukaan air dapat ditampilkan secara apik.

Pohon yang ditampilkan bisa saja tunggal atau berkelompok, bisa tumbuh di atas batu, bentuk raft dan lain-lain dengan berbagai gaya. Yang penting adalah bagaimana menampilkan gaya pohon tersebut sesuai dengan frnomena alam serta tema yang ingin disampaikan; termasuk hukum hortikultura dan aspek fisiologi serta morfologi tanaman. Contohnya, pohon yang hidup di pinggiran sungai biasanya cenderung untuk tumbuh mengarah ke sumber air mengikuti arah pertumbuhan akar.

Wadah tanamnya tidak harus berwarna putih dan tidak harus terbuat dari marmer; tetapi harus diakui, wadah yang terbuat dari marmer putih tetap memberi nuansa yang lebih indah khususnya dalam merefleksikan nuansa air. Yang penting wadah tersebut harus setipis mungkin karena dengan wadah yang tipis, kesan ruang panoramannya akan lebih luas, presentasi pohonnya lebih kuat dan permukaan airnya akan terkesan lebih dalam.

Ada tiga aspek estetika dasar yang sangat penting dalam membuat Shuihan Penjing yaitu : Komposisi, Dimensi dan Perspektif. Ketiga teori dasar tersebut tidak bisa berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan erat dalam membentuk hasil keseluruhan yang harmonis.

Komposisi  


Komposisi pada Shuihan Penjing adalah tata-letak dan penyusunan pohon, bebatuan serta objek lain pada bidang pandang datar yang dilihat dari depan. Saat kita membuat Shuihan Penjing, kita harus selalu beranggapan seakan-akan ada sebuat bingkai pada pandangan kita seperti sebuah kanvas kosong yang akan kita lukis sebuah pemandangan.
Tata letak setiap pohon atau kelompok pohon, besar-kecil, tinggi-rendah yang sedemikian rupa harus membentuk sebuah komposisi yang harmonis dan indah dipandang.

Pertama yang perlu kita lakukan adalah memilih pohon atau kelompok pohon yang akan dijadikan objek utama sebagai focus pandang. Fokus pandang harus berupa pohon atau kelompok pohon yang paling dominan, dalam hal ini biasanya adalah pohon atau kelompok pohon yang paling besar. Kemudian menentukan posisi objek utama tersebut sesuai dengan gaya kreasi yang ingin kita buat dan harus disesuaikan dengan bahan pohon yang tersedia.
Bila kita akan membuat gaya kelompok (grouping), maka kita harus tentukan terlebih dahulu letak kelompok utama tersebut sebagai focus pandang.

Letak pohon atau kelompok pohon utama sebaiknnya jangan di tengah-tengah wadah untuk menghindari komposisi yang berbentuk segi-tiga sama kaki atau simetris, karena komposisi yang simetris agak membosankan. Komposisi yang baik adalah komposisi yang asimetri yaitu komposisi yang membentuk segi-tiga tidak sama kaki.

Dari komposisi-lah, kita akan membentuk sketsa dasar dari panorama yang ingin dibuat. Komposisi yang baik akan menghasilkan panorama yang indah sekaligus menunjukkan sejauh mana kita memahami hukum dan fenomena alam nyata serta prinsip hortikultura.

Saat membuat komposisi, kita harus menentukan di mana bidang air yang akan kita bentuk, kemungkinan arah batang akibat erosi, arah cabang mengikuti arah akar, arah perdaunan mencari sinar matahari dan lain-lain.
Bila karya tersebut merupakan gaya kelompok, maka tidak selalu semua pohon mengarah ke satu arah, bisa saja saling berhadapan, tetapi hindari arah yang saling bertolak-belakang. Bentuk pohon-pohon yang dipakai juga tidak harus semua sama, justru di sinilah diperlukan kepiawaian mengolah gerak komposisi yang indah, dinamis dan harmonis, penuh variasi untuk menghasilkan suatu panorama yang apik dan kreatif.

Komposisi yang indah bukan hanya ditentukan oleh bentuk pohon, tetapi juga ditentukan oleh bentuk dan kontur daratan yang kita buat, bahkan penataan ruang kosong pada bagian tertentu. Perlu diingat bahwa ruang kosong adalah bagian dari komposisi yang penting.

Dimensi 


Dimensi pada Shuihan Penjing adalah penataan tata-letak pada permukaan wadah yaitu di mana kita letakkan pohon, batu, daratan dan air termasuk bentuk garis pinggir sungai beserta pulau-pulau kecilnya (dilihat dari atas).

Tata-letak tersebut sangat berpengaruh pada perspektif pandang yang akan kita bentuk selanjutnya; letak objek utama yang agak ke belakang akan memberi kesan ruang pandang yang lebih luas pada bagian depan dan memungkinkan kita untuk membentuk “foreground”; sedangkan letak objek utama yang agak ke depan akan memungkinkan kita untuk menarik perspektif yang lebih dalam atau membentuk latar belakang yang lebih jauh (background).
Bentuk dimensi bagian depan harus membentuk lengkungan ke dalam dan bukan cekung ke depan karena bentuk yang melengkung akan memberi efek pandang yang meluas.

Ada beberapa hal penting dalam tata-letak penyusunan dimensi di Shuihan Penjing antara lain :
- Hindari terbentuknya suatu garis lurus pada susunan pohon-pohon ataupun pulau-pulau.
Letak setiap pohon atau setiap kelompok sebaiknya membentuk garis zig-zag.
- Hindari jarak yang sama antara satu pohon dengan pohon yang lain ataupun antar
kelompok.
- Hindari bentuk garis pinggir sungai atau pulau yang lurus, sebaiknya ada lengkungan-
lengkungan atau liukan-liukan tidak beraturan yang membentuk tanjung dan teluk.
- Bila kita membentuk selat atau aliran sungai, maka sebaiknya selat atau sungai tersebut
tidak berbentuk lurus dari depan ke belakang, tetapi berbentuk liukan zig-zag ke
ke samping, kemudian semakin mengecil/menyempit pada bagian yang menjauh ke
belakang.

Perspektif 



Perspektif adalah persepsi pandangan kita dari depan terhadap dimensi suatu/kelompok objek; dalam hal Shuihan Penjing, perspektif sangat penting dalam membentuk suatu pemandangan alam yang dapat memberi kesan adanya kejauhan. Berhubung wadah tanam yang sangat terbatas, maka perspektif dapat dikamuflase dengan besar-kecil, tinggi-rendahnya pohon, letak setiap kelompok pohon atau daratan dan batu kepulauan serta kontur tanah, bahkan tata letak cabang setiap pohon.
Permainan kontur tanah dan tata letak batu serta garis daratan menjadi lebih penting lagi dalam membentuk perspektif bila karya kita hanya menampilkan jumlah pohon yang sedikit atau tunggal. Selain itu, pemakaian assesori bahkan jenis rumput dan lumutpun dapat memainkan peranan penting.

Selain ketiga aspek estetika dasar tersebut di atas, ada lagi lima aspek teknis penting dalam pembuatan Shuihan Penjing yaitu :

Objek Utama dan Pelengkap

Dalam sebuah karya Shuihan Penjing selalu harus ada objek utama yang menjadi fokus pandang. Objek utama tersebut bisa berupa pohon tunggal atau kelompok yang terdiri dari beberapa pohon. Dalam hal Shuihan Penjing, pohon tetap merupakan objek yang dominan dan bukan batu seperti dalam Sanshui Penjing.

Selain objek utama, ada 2 jenis objek pelengkap yaitu objek pelengkap untuk menarik skala pembanding kepada objek utama, dan objek pelengkap untuk aksentuasi serta untuk membantu membentuk dimensi dan menarik garis perspektif.
Bila objek pelengkap aksentuasi diletakkan di bagian belakang, maka akan menarik garis perspektif ke belakang untuk membentuk “background”; dan bila diletakkan di depan, akan membentuk “foreground”. Objek pelengkap aksentuasi bisa lebih dari satu, tetapi antara satu objek dengan objek yang lain harus terintegrasi secara baik dan jangan sampai terkesan terpisah sendiri-sendiri yang tidak sinkron.

Tahapan dasar dalam desain komposisi, mulai dari peletakan objek utama,
objek pelengkap sampai pembentukan komposisi yang asimetris.















































































Asimetris tetapi Berimbang

Hal ini berkaitan dengan komposisi. Prinsip utama dari komposisi yang baik adalah “hindari bentuk yang simetris”. Susunan secara keseluruhan sebaiknya membentuk segi tiga tidak sama kaki karena bentuk segi tiga sama kaki yang simetris dianggap statis dan membosankan. Keseimbangan visual adalah sangat penting untuk membentuk komposisi yang harmonis; sering sekali ruang kosong yang luas justru dapat memberikan suatu kesan yang indah dan dinamis sehingga objek pada fokus tampak lebih tegas dan monumental.

Hindari peletakkan objek utama di tengah untuk menghindari
bentuk komposisi yang simetris.

Senada tetapi Bervariasi

Jenis pohon yang dipakai sebaiknya sejenis seperti kita membuat bonsai gaya Grouping dan jenis batu yang dipakai harus sejenis dengan asumsi bahwa pada suatu daerah tertentu pada alam nyata hanya mempunyai satu jenis bebatuan yang sama.
Perlu diketahui bahwa batu juga sama seperti kayu yang memiliki urat atau alur yang dibentuk oleh alam secara alamiah akibat aliran air, erosi dll.; oleh sebab itu, peletakan batu juga harus diperhatikan supaya seirama.

Irama dan gerak pohon-pohon juga harus senada dengan fenomena alam yang ingin ditampilkan, tetapi tetap harus bervariasi dengan aksentuasi untuk memperindah gerak yang dinamis dan tidak monoton.
Contohnya bila kita membuat sebuah pulau dengan pohon-pohon yang tumbuh tegak lurus, maka boleh saja ada pohon dekat ke air yang tumbuh dengan gerakan batang melengkung miring ke arah air. Pohon di bagian belakang yang agak dimiringkan ke belakang juga dapat membantu menarik perspektif kedalaman; dan kadang-kadang pohon yang letaknya di pinggir pot sengaja dimiringkan sehingga keluar dari bibir pot justru memberi kesan bidang yang lebih luas dan tanpa batas.
Jadi bentuk pohon tidak harus semua sama, arah bisa berhadapan atau satu arah, tetapi hindari arah pohon yang saling bertolak-belakang.

Jenis pohon yang dipakai sebaiknya sejenis walaupun bentuknya boleh bervariasi,
dan jenis batu yang dipakai juga harus sejenis.

Proporsi dan Skala

Proporsi dan skala dalam karya Shuihan Penjing memainkan peranan sangat penting untuk menciptakan suatu pemandangan yang alami dengan teori perspektif yang relevan.
Setiap objek yang dipakai dan peletakannya harus selalu mempertimbangkan ukuran yang menunjukkan skala dan proporsi imajinatif yang logis. Umpamanya bila kita memakai asesori jembatan, perahu, pagoda, patung manusia atau binatang, maka kita harus memperhatikan ukuran setiap asesori tersebut dan korelasinya serta posisi di mana kita letakkan dibandingkan dengan objek fokus. Bila ada lebih dari satu asesori sejenis yang dipakai, maka yang letaknya lebih ke belakang harus berukuran lebih kecil sesuai dengan hukum perspektif.
Bukan hanya dalam hal pemakaian asesori, bahkan pemakaian jenis rumput, lumut dan batupun bila diimplementasikan secara baik akan menghasilkan karya yang sempurna.

Proporsi dan skala setiap elemen adalah sangat penting untuk
menciptakan hasil karya yang harmonis;
dan pemakaian asesori yang ideal dapat mempertegas tema yang ingin disampaikan.

Alami

Pada karya Shuihan Penjing, yang paling penting adalah memberi kesan alami dan hindari kesan seperti prototype sebuah taman buatan yang artificial karena esensi dari Shuihan Penjing adalah sebuah cuplikan fenomena alam nyata yang alami, sebuah karya seni dan bukan sebuah hasil kerajinan tangan.
Oleh sebab itu, hindari bebatuan yang dibuat dari semen karena jejak rekayasa sangat sulit dihindari. Pemakaian asesori jangan berlebihan dan menyolok karena akan terkesan seperti taman buatan; prinsip pemakaian asesori adalah hanya sebatas sebagai pelengkap aksentuasi pada tema.

Karya ini menggambarkan panorama pulau-pulau kecil di danao
dengan penataan komposisi dan perspektif yang apik,
pemakaina elemen desain yang harmonis,
aksentuasi asesori yang mendukung tema sehingga menghasilkan
nuansa alam yang nyaman dipandang.

 Perawatan

Shuihan Penjing tidak sulit untuk dirawat, penyiramannya sama seperti kita menyiram bonsai; yang penting harus memperhatikan pemupukannya sehubungan dengan media tanam yang relatif sangat sedikit dan terbatas. Sebaiknya selalu memakai pupuk organik yang dicampurkan pada media tanam tersebut dan secara periodik diberikan pupuk butiran NPK serta pupuk daun yang dicampur dengan Vitamin B-1.

Dengan wadah yang tipis, tidak perlu ada lobang drainase karena air akan dengan mudah mengalir keluar ataupun menguap.Untuk menghindari erosi, permukaan tanah sebaiknya ditutupi dengan lumut atau rumput halus dan segera tambahkan tanah bila ada bagian yang terjadi erosi. Sebelum diberi lumut, bagian atas tanah perlu dilapisi terlebih dahulu dengan tanah liat supaya lumut dapat hidup sehat.

Di bawah ini adalah beberapa contoh Shuihan Penjing karya saya. Selamat menikmati dan selamat berkarya !

Walau dalam karya ini tidak terdapat pohon pelengkap yang jelas,
tetapi ukuran patung kerbau yang proporsional telah berhasil
perannya menunjukkan kesan seberapa besar pohon tersebut.

Walaupun lebar pot tersebut sangat terbatas, tetapi skala ukuran pulau dan pohon
di belakang beserta kontur tanahnya berhasil menarik perspektif yang sangat efektif
sehingga pulau di belakang terkesan sangat jauh.
 Catatan :

Konsep tersebut di atas dapat dipergunakan juga pada gaya bonsai Grouping, Forest, Landscape, Raft dan gaya lain yang sejenis.



Artikel ini ditulis oleh Robert Steven di Forum Hobby Indonesia

Selasa, 03 September 2013

Artikel Robert Steven : Bonsai Bagaimana Yang Disebut Bagus ?

Tidak semua tanaman yang dibentuk semau kita dan ditanam dalam pot bisa disebut sebagai bonsai. Bonsai yang bagus harus memenuhi beberapa kriteria dasar, dan bonsai seindah apapun bila tidak disertai dengan wadah yang sesuai, maka belum bisa disebut sebagai bonsai yang bagus.

Masih banyak orang yang menganggap bahwa bonsai yang bagus sekedar pohon kerdil yang dibentuk rapi dan ditanam dalam pot; padahal untuk membuat sebuah karya bonsai yang bagus, banyak disiplin ilmu lain yang harus kita kuasai antara lain pengetahuan estetika seni, ilmu botani termasuk fisiologi dan morfologi tanaman serta kejelian mengobservasi fenomena alam.

Sebuah karya bonsai dapat dikatakan bagus kalau memenuhi tiga persyaratan dasar yaitu: keindahan artistic, hukum hortikultura serta makna tersirat. Kita dapat membentuk sebatang pohon yang penuh keroposan pada batang dan kita tanam dalam pot pelastik dengan posisi rebah dengan perantingan dan perdaunan yang berantakan dengan pesan tema sebatang pohon tua di alam yang roboh karena diterpa angin topan. Karya tersebut cukup bermakna, tetapi kalau tidak indah, maka tidak dapat disebut sebagai bonsai apalagi wadah tanamnya belum tentu sesuai. Kita juga dapat membuat sekelompok pohon dari berbagai jenis tanaman dengan konfigurasi semaunya dan ditanam dalam pot keramik yang indah. Karya trsebut cukup bermakna dan mencerminkan fenomena alam nyata sesuai hukum hortikultura; tetapi belum dapat disebut sebagai karya bonsai yang bagus karena konfigurasinya tidak indah dan harmonis. Jadi kesimpulannya adalah bahwa keindahan artistik adalah persyaratan mutlak yang harus dipenuhi dalam sebuah karya bonsai walaupun mungkin hukum hortikultura dan pesan maknanya tidak terlalu kentara.

Keindahan artistik dari pohon tersebut mutlak disandingkan dengan wadah tanam yang sesuai; tanpa kombinasi yang terpadu secara harmonis antara pohon dengan wadah tanam, karya tersebut tetap belum dapat dikatakan sebagai karya bonsai yang bagus !

Yang dimaksud dengan hukum hortikultura di seni bonsai ada tiga aspek yaitu: karakter dasar species, aspek kondisi lingkungan serta faktor atmospheric alam.

Setiap jenis tanaman mempunyai karakter dan bentuk dasar sendiri, umpamanya pohon asam berbeda dengan pohon kapok, acasia berbeda dengan cemara udang; tetapi jenis tanaman yang sama dapat berobah bentuknya akibat kondisi lingkungan yang berbeda di mana pohon tersebut tumbuh. Pohon beringin yang tumbuh di lapangan terbuka akan berbeda bentuknya dengan beringin yang tumbuh di pinggir sungai, pohon wahong yang tumbuh di perbukitan batu berbeda bentuknya dengan wahong yang tumbuh di dataran rendah. Hal tersebut bisa disebabkan oleh faktor sumber air, kondisi tanah maupun arah sinar matahari dan lain-lain. Selain kondisi lingkungan tersebut di atas, bentuk sebatang pohon juga dapat diakibatkan oleh gangguan dari luar, umpamanya karena di sambar petir, akibat penyakit, gangguan manusia atau binatang, terpaan ombak, angin ataupun salju; sehingga bentuk pohon pinus yang tumbuh di pegunungan tropis berbeda dengan pinus yang tumbuh di pegunungan Huangshan di Cina.

Ada hal lain yang sangat fundamental yang mengakibatkan perbedaan karakter dan bentuk pohon yaitu aspek fisiologi dan morfologi tanaman. Kedua aspek tersebut adalah sub-disiplin ilmu botani yang mempelajari fisiologi tanaman serta segala aspek yang mempengaruhi bentuk pertumbuhan pohon. Pohon jenis berdaun jarum mempunyai fisiologi dan aspek morfologi yang berbeda dengan pohon jenis berdaun lebar; itu sebabnya pohon pinus atau cemara mempunyai karakter anatomi dan bentuk dasar yang sangat berbeda dengan pohon beringin mulai dari garis batangnya sampai kepada garis percabangannya.

Pengetahuan tersebut sangat penting bagi para seniman bonsai supaya dapat membentuk bonsai yang lebih dekat dengan kenyataan alam sehingga karakter dan nuansa yang dihasilkan akan lebih relevan. Walaupun pada batas tertentu jenis tanaman bukan menjadi faktor penting dalam membentuk sebuah design bonsai, tetapi seyogianya kita hindari mendesign bonsai jenis daun lebar dengan bentuk pohon jenis berdaun jarum karena kedua jenis tersebut memiliki karakter yang sama sekali berbeda. Contohnya, akan sangat aneh bila kita mendesign bonsai beringan seperti karakter cemara dengan liukan dan keringannya; atau sebaliknya kita design bonsai cemara seperti pohon acasia.

Dalam kenyataan, kesalahan tersebut yang sering terjadi terutama dalam cara membentuk percabangan dan perantingan. Hal tersebut diakibatkan karena kebanyakan dari kita mempelajari seni bonsai dari buku Jepang yang kebanyakan dengan contoh pohon jenis berdaun jarum atau jenis maple yang karakternya berbeda dengan pohon asam; sehingga saring kita mendesign semua pohon kita dengan pelintiran batang dan cabang seperti cemara atau bulat rapi seperti bentuk pohon maple. Kesalahan mendasar tersebut yang menghilangkan karakter pohon tropis kita kecuali beberapa jenis pohon yang memang memilki karakter dasar yang unik seperti santigi dan wahong laut.

Semakin banyak disiplin ilmu yang kita pelajari terutama yang berkaitan dengan estetika seni dan botani, akan semakin luas wawasan kita sehingga kemampuan kita dalam mendesign sebuah karya bonsai akan semakin meningkat; yang akhirnya akan mampu melahirkan karya bonsai yang semakin dekat dengan fenomena alam, berjiwa, bernuansa keindahan artistic dengan kandungan makna tersirat layaknya sebuah karya seni, dan bukan kerajinan tangan yang hanya dinilai kerapian dan tingkat kesulitan pembuatannya.


 Buatlah karya bonsai yang indah, mencerminkan fenomena alam yang relevan dengan makna yang berjiwa…dan yang paling penting,karya bonsai yang bagus tidak dapat terpisahkan dari tiga unsur utamayaitu pohon, wadah dan tatakan.
( Salah satu konsep dasar Penjing : Yi Shu – Er Pen – San Ji Jia )


Selamat berkarya !


Artikel ini ditulis oleh Robert Steven di Forum Hobby Indonesia

Selasa, 20 Agustus 2013

Artikel Robert Steven : Bonsai & Penjing

Banyak yang bertanya : apakah Penjing sama dengan Bonsai ?

Jawabannya adalah “ya” dan “tidak”, tergantung pada konteks mana kita membicakannya.

Sampai saat ini, di banyak negara, termasuk di Indonesia, masih banyak yang salah kaprah mengenai pengertian “Penjing”. Banyak yang menganggap semua Bonsai yang bernuansa landscape atau panorama adalah Penjing, gaya grouping yang memakai pot tipis adalah Penjing, atau ada yang ada patung, pagoda atau asesori adalah Penjing. Padahal tidak demikian halnya.

Dapat kita lihat masih banyak yang menyamakan seni Penjing dengan Bonsai; tetapi di kesempatan lain, membahas Penjing sebagai satu bentuk seni tersendiri dengan pengertian konsep yang tidak jelas; bahkan ada yang menganggap Bonsai dan Penjing tidak dapat di-kontes-kan bersama.

Ini adalah karena sangat jarang ada buku, artikel atau literatur seni Penjing karangan para Master Penjing Cina yang diterjemahkan ke bahasa asing. Untuk itu, saya sangat bersyukur dapat berbahasa Cina sehingga dapat mempelajari buku maupun literatur seni Penjing dan berdiskusi dengan para master Penjing di negeri Cina yang kebetulan sangat sering saya kunjungi.

Kita mulai dari arti yang sebenarnya dari “Bonsai” dan “Penjing”. “Bonsai” adalah bahasa Jepang yang berarti “tanaman dalam pot”, sedangkan Penjing adalah bahasa Mandarin yang berarti “panorama alam dalam pot”; tetapi tidak berarti bahwa Penjing harus selalu bernuansa panorama atau yang bernuansa panorama pastilah Penjing. Yang dimaksudkan “panorama” oleh Penjing adalah suatu cuplikan alam yang indah, sehingga Penjing bisa berupa panorama yang ada pohonnya ataupun yang tidak ada pohon. Oleh sebab itu, pengertian Penjing adalah sangat luas, ada Shuihan Penjing (Water and land Penjing), Bigua Penjing (Wall-hanging Penjing), Shansui Penjing (Rock Penjing) dan yang terakhir, Shujuang Penjing yang sama dengan apa yang kita sebutkan “Bonsai” selama ini.

Kata “Bonsai” sendiri, dalam bahasa Mandarin dieja “Penzai” yang artinya “tanaman dalam pot”. Segala tanaman yang ditanam dalam pot disebut Penjai; tetapi pengertian “Bonsai” yang kita anut selama ini, oleh Cina disebut “Shujuang Penjing” atau Penjing Tanaman. Tetapi pada prakteknya saat bercerita mengenai Shujuang Penjing (atau Bonsai), kata “Shujuang” sering tidak disebut, dan hanya menyebut Penjing. Dalam konteks ini, Penjing adalah sama dengan Bonsai dengan segala gaya yang kita kenal dalam Bonsai, bisa hanya berupa sebatang pohon tunggal yang ditanam dalam pot tanpa bernuansa panorama, ada asesori atau tidak.

Jadi kalau kita melihat dalam pandangan “micro”, Penjing adalah sama dengan Bonsai karena kita berbicara dalam konteks sempit, dalam topik “Bonsai” dengan menghilangkan kata “Shujuang”. Biasanya ini adalah masalah kemudahan pengucapan atau kebiasaan dalam penterjemahan di buku atau artikel.

Tetapi kalau kita berbicara dalam konteks “macro”, Penjing adalah berbeda dengan Bonsai dalam hal beberapa cirri karakter yang khas, tetapi bukan dalam hal gaya atau ada tidaknya asesori.

Mungkin dapat kita umpamakan “Kucing adalah binatang, tetapi binatang belum tentu kucing”; jadi Bonsai adalah Penjing, tetapi Penjing belum tentu Bonsai !

Contohnya : The Singapore Penjing & Stone Appreciation Society, adalah salah satu organisasi yang memakai kata Penjing di mana tidak hanya mewadahi seni Bonsai, tetapi juga seni Penjing yang lain termasuk Shansui Penjing (Rock Penjing) walaupun lebih didominasi oleh Bonsai.

Demikian juga di Cina sendiri, banyak yang mulai memakai istilah Penzai atau bonsai daripada Penjing sebagai akibat dari interaksi global dengan dunia luar.

Filsafat dasar yang sangat menyolok dalam seni Penjing adalah “Yuan yu zi ran, Gao yu zi ran” (Terinspirasi dari alam dan mengacu pada alam) sehingga nuansa seni Penjing tidak terlepas dari kesan cuplikan alam yang cantik dan puitis; sentuhan rekayasanya tidak dominan.

Seni Bonsai lebih bersifat dogmatis dan religius, sedangkan Penjing lebih simbolik dengan naturalisme yang kental dan memberikan kebebasan berekspresi yang lebih luas.

Seni Penjing tidak menuntut kesempurnaan fisik karena fenomena alam pada dasarnya adalah yang paling sempurna termasuk ketidak-sempurnaannya; yang ada adalah keindahan yang harmonis !

Sebuah karya Penjing, apapun bentuk dan gayanya, sangat mengutamakan “yujing”, yaitu nuansa alam yang puitis; berbeda dengan Bonsai yang lebih mengutamakan kesempurnaan fisik.

Penjing lebih menitik beratkan pada keindahan dan keharmonisan keseluruhan, presentasi yang dapat memberi pesan dan kesan tersirat dan bukan kesempurnaan dogmatis yang tanpa makna. Dalam seni Penjing, selain penguasaan konsep estetika seni, penguasaan hukum alam juga sangat penting termasuk ilmu fisiologi dan morfologi tanaman. Bonsai lebih mengandalkan tehnik rekayasa untuk mencapai kesempurnaan fisik sesuai kriteria dan norma yang sering dianggap sebagai aturan yang baku.

Wawasan, pengetahuan dan latar belakang kebudayaan dan politik sangat berpengaruh pada kedua seni tersebut. Sifat rasional dan disiplin tinggi pada bangsa Jepang terefleksi dengan sangat jelas pada Bonsai; sebaliknya pada seni Penjing sangat bernuansa sentimentil. Hal ini disebabkan seni Penjing sangat banyak terinspirasi oleh lukisan klasik Cina dan puisi jaman dinasti Tang di mana saat itu banyak sekali seniman dan pujangga yang merasa frustrasi dengan keadaan politik yang menghambat karier mereka di pemerintahan, kemudian terefleksikan dalam karya-karya seni mereka yang melankolis. Salah satu gaya yang paling klasik adalah gaya “Wen ren shu” atau “Shu Hua Shi” atau yang sering kita kenal sebagai gaya literati atau bunjin. Jadi adalah salah besar kalau ada yang menganggap gaya bunjin adalah gaya kontemporer.

Berhubung keterbatasan bahasa Inggris oleh para seniman Penjing di Cina, kemudian memang sangat sulit menterjemahkan bahasa Cina ke bahasa lain terutama dalam hal seni, sehingga sangat kurang sosialisasi seni Penjing ke dunia luar. Akibatnya, banyak yang salah kaprah dan salah menginterpretasikan seni Penjing sebagai bentuk seni yang sama sekali berbeda dengan Bonsai.

Apabila Shujuang Penjing adalah sama dengan Bonsai, lalu bagaimana membedakannya ? Padaq dasarnya sama, yang beda adalah beberapa sentuhan ciri karakter yang khas. Untuk membedakannya, kita perlu mempelajari kelima aliran utama Penjing yang disebut “Zhong Guo Pen Jing Wu Da Liu Pai”. Tanpa mempelajari sejarah, falsafah, konsep, tehnik dan karakter kelima aliran tersebut, kita akan sangat bingung untuk mendifinisikan Penjing dan membedakannya dengan Bonsai ala Jepang.

Lalu, apakah perlu kita membedakan Penjing dan Bonsai ? Menurut saya, hal tersebut tidak terlalu penting. Alasannya karena dalam zaman globalisasi ini, semua bentuk seni sudah saling berinteraksi termasuk seni Bonsai. Bahkan di Cina sendiri, kelima aliran yang dulunya sangat berbeda karakter, sekarang sudah semakin kabur. Walaupun secara kasat mata, kita masih dapat membedakan “Bonsai” ( Penjing) yang dibuat oleh seniman Cina, tetapi bagi saya, hal tersebut sekedar istilah dan masalah ciri-khas baik yang tersurat maupun tersirat, seperti hal-nya kita biasa membedakan Bonsai buatan Taiwan atau orang asing yang dapat membedakan Bonsai buatan seniman Indonesia.

Lalu bagaimana cara penilaian atau menjuri Penjing ?

Sama saja, tidak ada bedanya dengan cara menjuri Bonsai. Kalau karya tersebut bernuansa panorama dengan banyak pohon, ya kita nilai seperti layaknya kita menilai Bonsai gaya grouping atau forest; kalau karya tersebut bernuansa panorama tetapi hanya ada satu atau dua pohon, ya kita nilai semua elemen komposisinya; dan kalau karya tersebut seperti Bonsai, walau sangat berciri khas Penjing, ya kita nilai seperti layaknya kita menilai Bonsai.

Yang menjadi masalah, ada banyak juri Indonesia yang terjebak oleh sistem penjurian yang dibuat oranisasi, lalu kurangnya wawasan para juri yang rekruitmennya menurut saya sudah salah dari awal, sehingga banyak yang tidak mampu membaca yang tersirat. Tugas sebagian juri “instant” tersebut lebih sebagai petugas pemberi nilai layaknya guru sekolah menilai kertas ujian “multiple-choice”, tetapi tidak mampu menilai jawaban ujian yang bersifat “open question”. Mereka hanya diajarkan apakah jawaban yang benar itu a, b, c atau d, tetapi mereka tidak memiliki kemampuan menilai jawaban esai yang kreatif.

Jadi kalau ada yang mengusulkan untuk memisahkan penjurian Bonsai dengan Penjing, itu karena ketidak-pahaman mereka. Kalaupun dipisah, bila mereka tidak menguasai konsep Penjing, lalu mau menilai dengan intrumen apa dan kriteria yang bagaimana ? Bagaimana kita dapat menilai sesuatu yang kita tidak memiliki barometernya ?

Masalah ini bukan saja terjadi di Indonesia, tetapi di man-mana. Oleh sebab itu, saya terinspirasi untuk menulis buku ke-tiga saya yang berjudul “The Five Schools of Chinese Penjing” yang mudah-mudahan dapat terbit dalam tahun ini. Ini adalah buku sejenis pertama yang ditulis dalam bahasa asing selain bahasa Cina, mengenai segala seluk-beluk seni Penjing secara lengkap. Usaha saya ini sudah mendapat restu dari organisasi Penjing di Cina dengan dukungan bahan literature serta foto-foto karya dari para seniman Penjing di Cina.


Artikel ini ditulis oleh Robert Steven di Forum Hobby Indonesia

Kamis, 07 Februari 2013

Prakarya pot / vas bunga dari paralon bekas

Nemu paralon bekas, sisa renovasi rumah dulu, dibuang sayang, dapet ide untuk bikin pot buat bonsai ukuran kecil. Jangan dilihat hasilnya ya sob, sudah pasti kurang cakep, hehhe, tapi mungkin bisa menginspirasi sobat sobat sekalian buat bikin yang lebih bagus dari ini. Sekalian mendukung program pengurangan sampah yang tidak bisa terurai, mari selamatkan bumi, dari hal hal yang kecil dulu laah.

Selain untuk pot, mungkin juga bisa digunakan sebagai vas bunga atau tempat pensil dan lain lain. Silahkan dinikmati proses pembuatannya.


bahan bahan yang diperlukan


bakar permukaan paralon yang akan dibuat tekstur bergelombang atau di tekuk


tahan bagian yang ditekuk saat masih panas dan menjadi empuk, tahan hingga paralon mendingin dan keras kembali. Ulangi di bagian bagian yang sobat kehendaki.


Tutup bagian bawah dengan paralon yang dipotong sesuai ukuran, sebagai bagian dasar, rekatkan dengan lem PVC.


Setelah lem mengering, bakar dan tekuk paralon bagian dasar mengikuti kontur bagian badan pot


Prakarya sudah jadi, jangan lupa dilubangi bagian bawahnya jika akan digunakan sebagai pot, dan mungkin akan lebih manis jika di cat atau dilukis.

Masih ada sisa lagi, saya bikin lagi dengan ukuran yang lebih kecil, yang sepertinya cocok buat mame bonsai cascade, hehehe






perbandingan ukuran dengan pot pertama, baru nyadar kalo fotonya gelap dan rada miring, hehhe, baru asik foto foto, hujan deras turun tiba tiba, langsung kabur ngangkatin jemuran.

Okelah sobat, semoga menginspirasi ya, maaf kalau hasil karya saya kurang sedap dipandang mata, sampai jumpa lagi.

Senin, 19 November 2012

Prakarya pot semen made in sendiri

Buat pecinta bonsai dengan kantong pas pasan dan agak pelit seperti saya, urusan membeli pot yang canggih, mantep, artistik dan keren, adalah persoalan rumit, hhehehe. Jangan berbicara dulu tentang pot keramik yang harganya naudzubillah itu, untuk belanja pot semen jadi saja sudah mengurangi jatah jajan, hahhaha.

Tapi urusan bonsai harus terus jalan, kebetulan ada sisa pasir dan semen, sayang kalo tidak terpakai.

Posting ini bukan untuk mengajari sobat sekalian caranya bikin pot lho ya, apalagi hasil karya saya juga setaraf dengan prakarya anak TK, masih berantakan, tapi lebih mengajak sobat sekalian untuk tidak menyerah dengan keadaan, dan juga lebih kreatif dalam memanfaatkan barang barang di sekitar kita, dan saya yakin hasil karya sobat semua pasti lebih mantap.

Monggo dilihat hasil utak atik saya yang suka kurang kerjaan, dan saya ikhlas atas segala caci maki untuk hasil prakarya saya yang tak sedap dipandang mata,..hahaha

Terus berbonsai sobat, selama hayat masih di kandung badan.








Sabtu, 27 Oktober 2012

Tokonoma








Sering juga disebut dengan toko, tokonoma adalah merupakan istilah umum Jepang, yang mengacu pada sebuah ruang ceruk khusus yang dibangun menyatu pada ruang tamu di rumah rumah jepang tradisional yang difungsikan sebagai tempat untuk menampilkan benda seni dan sebagai bentuk apresiasi pada seni itu sendiri.

Tokonoma dan isinya adalah elemen penting dari dekorasi interior tradisional Jepang. Kata 'toko' secara harfiah berarti "lantai" atau "tidur", 'ma' berarti "space" atau "ruang."

Barang barang umum yang sering dipresentasikan dalam sebuah tokonoma adalah kaligrafi, gulungan bergambar, rangkaian bunga dan tentu saja bonsai, walau terkadang secara tradisional, bonsai dianggap terlalu kotor untuk suatu tempat yang sangat dihormati.

Dalam adat istiadat masyarakat Jepang, ketika seorang tamu berkunjung, kursi tamu diatur dalam posisi tamu tersebut duduk membelakangi tokonoma, filosofinya adalah kesederhanaan, dimana tuan rumah tidak harus memamerkan isi dari tokonoma untuk tamu, dan dengan posisi duduk tadi, tuan rumah tidak perlu menunjuk tamu menuju tokonoma tersebut.

Melangkah di dalamnya dilarang keras, kecuali untuk mengubah tampilan dan isi dari tokonoma.


Sabtu, 08 September 2012

Dahsyatnya "sekijoju" di angkor wat

Jika kita belajar teknik  gaya bonsai sekijoju alias akar mencengkeram batu, tak ada salahnya sahabat sekalian menyaksikan gambar gambar dibawah ini.

Takjub, terkesima, terpesona, dan beragam pertanyaan bagaimanakah caranya akar akar banyan / beringin ini bertahan melewati waktu, berusaha " mempertahankan hegemoni " seolah olah tak ingin membiarkan manusia yang terkadang serakah mengambil alih atas apa yang telah mereka "jaga" selama ratusan tahun.

Hanya satu kata dari saya.......menakjubkan


























Kamis, 06 September 2012

Pohon pohon raksasa

Jika melihat gambar gambar pohon ini, tak terkira telah berapa ratus bahkan ribu tahun usianya, pohon pohon ini telah bertahan dari kerasnya alam, dan telah menjadi saksi bisu dari berbagai peristiwa sejarah yang telah merubah wajah dunia ini