Tampilkan postingan dengan label gaya bonsai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gaya bonsai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Agustus 2014

Shidare - zukuri / weeping / cabang merunduk

Shidare zukuri, merupakan terminologi bahasa jepang untuk merujuk pada gaya bonsai dengan cabang yang merunduk ke arah tanah.

gaya ini menduplikasi gaya alami dari beberapa jenis pohon yang memang mempunyai karakter merunduk pada cabang cabangnya, seperti pohon wisteria, pohon weeping willow dan beberapa pohon lainnya
















Selasa, 10 September 2013

Artikel Robert Steven : Bonsai Gaya Grouping


 Gumpalan bebatuan…duduk diam,
Rumpunan pepohonan…tegak ragam;
Ku-Agungkan Kau ciptaan alam,
Kupeluk Kau dalam pujian…!



Alam kita kaya dengan sumber inspirasi yang dapat dituangkan ke dalam seni Bonsai, salah satunya adalah gaya Grouping. Sumber inspirasi dapat kita peroleh saat kita berlibur ke pegunungan, perkebunan, danau, pulai kecil maupun ke pedesaan; bahkan melalui imajinasi kita tentang alam antah-berantah.

Esensi dari Bonsai gaya Grouping adalah visualisasi cuplikan suatu bagian pemandangan habitat sekelompok pohon bernuansa alam nyata yang mencerminkan suasana tertentu yang indah dan harmonis.

Secara umum, Grouping dapat dibagi menjadi tiga kelompok dasar sbb.:

• Pandangan Dekat (Close-up View)
• Pandangan Panorama (Landscape View)
• Padangan Hutan (Forest View)

Masing-masing kelompok memiliki karakter tersendiri sehingga memberikan nuansa yang berbeda pada karya yang diciptakan; dan dari setiap kelompok tersebut dapat dibuat variasi yang tidak terbatas sesuai imajinasi kita.

Pandangan Dekat (Close-up View)


- Jumlah pohon relatif sedikit.
- Detail anatomi percabangan dan kanopi pohon secara individu lebih jelas.
- Titik focal berada pada pohon utama yang paling dominan sehingga detail anatomi pohon utama tersebut menjadi sangat penting.
- Perbedaan ukuran antara pohon utama dengan pohon-pohon pendukung lainnya sangat kontras.
- Garis horizon (Horizon Line) serta garis Linear Perspective tidak terlihat jelas sehingga efek ilusi kedalaman ruang tidak terlalu tegas.

Pandangan Panorama (Landscape View) 


- Jumlah pohon relatif lebih banyak.
- Titik focal berada pada pohon atau kelompok pohon yang paling dominan.
- Gerak irama secara keseluruhan lebih jelas.
- Lebih mengutamakan penataan ruang komposisi dan dimensi dari pada detail anatomi individu pohon.
- Penataan garis perspektif lebih jelas.
- Nuansa cuplikan suatu pemandangan tertentu sangat tegas.

Pandangan Hutan (Forest View)
 

- Jumlah pohon relatif banyak.
- Titik focal lebih pada kelompok pohon atau bagian yang mempunyai puncak paling tinggi dan lebat.
- Perbedaan ukuran antara satu pohon dengan pohon lain tidak terlalu kontras.
- Lebih utamakan bentuk silhouette kanopi kelompok pohon secara keseluruhan dari pada kanopi individu pohon.
- Detail anatomi percabangan masing-masing pohon tidak terlalu penting.
- Garis perspektif bisa saja tidak terlalu jelas karena lebih utamakan komposisi bidang pandang 2-dimensi secara keseluruhan.

Untuk dapat membuat bonsai gaya grouping yang bagus, ada beberapa instrumen dasar sebagai konsep dan tehnik pembuatan yang perlu kita kuasa yaitu :

Komposisi

Komposisi pada Grouping adalah penataan ruang pada bidang pandang 2-dimensi yaitu penataan tata letak setiap pohon dengan titik pandang dari depan.
Langkah pertama adalah membuat tata letak kasar untuk suatu pemandangan tertentu yang ingin kita ciptakan, seperti halnya kita membuat ilustrasi atau sketsa dasar pada sebuah kanvas lukisan.

Pada tahap ini, sementara kita abaikan dulu tata letak pohon dari sudut pandang atas supaya memudahkan kita dalam mevisualisasikan imajinasi secara bertahap.
Salah satu tujuan utama pada tahap ini adalah menentukan focus utama pandangan serta gerak irama dari pohon-pohon tersebut. Keseimbangan optik sangat penting dalam komposisi dan penataan ruang kosong menjadi salah satu bagian penting dalam komposisi sehingga terkesan indah, harmonis dan dinamis. Komposisi yang dianggap paling indah dan tidak membosankan adalah komposisi yang berbentuk segi-tiga tidak sama kaki (keseimbangan yang asimetris).

Grouping juga harus mempunyai gerak irama (flow) yang jelas yang terbentuk oleh letak focus pandangan, gerak irama setiap pohon yang dipakai serta penataan ruang kosong.

Setelah komposisi dasar telah terbentuk, kita melangkah ke tahap berikutnya dalam penataan dimensi.

Dimensi

Dimensi pada Grouping adalah formasi pohon-pohon pada permukaan wadah yang dipandang dari atas. Pada tahap ini, tanpa merobah sketsa dasar komposisi, kita mulai mengatur peletakan setiap pohon pada bagian wadah tertentu, jarak setiap pohon atau kelompok pohon sehingga terbentuk sebuah konfigurasi yang dinamis yang selanjutnya sangat penting untuk membentuk perspektif.

Dimensi yang baik pada Grouping adalah berusaha menghindari jarak yang sama pada setiap pohon atau kelompok pohon, dan hindari terbentuknya suatu garis lurus yang horizontal atau vertikal. Sebaiknya susunan pohon-pohon tersebut berbentuk garis yang zigzag.

Formasi keseluruhan sebaiknya berbentuk cekungan ke bagian belakang untuk menciptakan efek pandang yang lebih luas.

Perspektif


Perspektif pada Grouping adalah ilusi pandangan terhadap kedalaman ruang yang tercipta oleh tata letak pohon, skala, ukuran dan proporsi pohon serta kontur permukaan tanah.
Pada tahap ini kita mulai perhatikan konfigurasi setiap pohon atau kelompok pohon yang membentuk ruang-ruang kosong serta kontur setiap bagian permukaan tanah untuk menciptakan ilusi jarak ruang. Ukuran tinggi-rendah serta besar-kecil setiap pohon menjadi element penting dalam membentuk ilusi jarak pandang objek sesuai dengan hukum teori perspektif tentang Horizon Line, Vanishing Point, Linear Perspective dan Curvilinear Perspective.

Ukuran pohon yang lebih kecil tidak selalu harus di belakang karena selain background, penataan foreground-pun sangat penting untuk menciptakan sebuah pemandangan yang apik.

Catatan :

Untuk lebih detail mengenai konsep tersebut di atas, silahkan baca juga artikel "Konsep & Tehnik Pembuatan Shuihan Penjing" serta "Teori Dimensi, Komposisi & Perspektif Dalam Seni Bonsai".

Konsep yang sama bisa diterapkan juga pada bonsai gaya raft...



Artikel ini ditulis oleh Robert Steven di Forum Hobby Indonesia

Selasa, 27 Agustus 2013

Artikel Robert Steven : Bonsai gaya Bunjin


 Selama ini terdapat suatu pengertian yang salah kaprah terhadap gaya “Bunjin” dalam Bonsai. Ada yang mengatakan gaya Bunjin adalah gaya “Tua renta”, Bonsai tersebut harus terkesan kurus, tinggi, tua dan merana… Saya kurang paham, dari mana asal-usul pengertian tersebut, mungkin hanya rekaan sendiri; padahal, gaya ini jelas-jelas disebut sebagai “Bunjin” (Bh. Jepang) atau “Literati” (Bh. Inggris) yang artinya adalah “Pujangga”; dalam bh. Mandarin disebut “Wen-ren”.

Menurut buku dan literatur seni Bonsai Cina, sangat gamblang diulas mengenai asal-usul, sejarah gaya tersebut baik dari segi budaya maupun politik yang mempengaruhinya serta makna filosofisnya.

Seperti kita ketahui, seni Bonsai berasal dari Cina dan sudah berkembang lebih dari 1300 tahun yang lalu pada jaman Dinasti Tang. Pada saat itu, perkembangan seni sangat pesat, baik seni lukis, patung maupun kaligrafinya dan pengetahuan sastra adalah identik dengan jabatan di pemerintahan.

Oleh sebab itu, banyak bermunculan para pujangga, sastrawan dan cendekiawan yang mempunyai posisi penting di kerajaan karena saat itu system rekrut adalah dengan ujian negara, dan penguasaan seni dan syair adalah salah satu aspek tolok ukurnya.

Bersamaan, seni Bonsai (yang saat itu disebut Penjing) berkembang pesat sebagai salah satu objek seni dalam kalangan kerajaan dan para elit.

Seni Bonsai Cina tidak terlepas dari pengaruh seni lukis Cina, syair maupun seni budaya tradisionil termasuk seni kaligrafi. Dari sinilah kemudian menjadi salah satu inspirasi para seniman Bonsai yang melahirkan gaya Bunjin yang disebut “Shu hua shi penjing” dengan meniru gaya, karakter dan estetika seni kaligrafi yang duluan berkembang; lalu dikemudian hari disebut juga “Wen ren shu” atau penjing gaya pujangga karena yang menciptakannya adalah para pujangga, bukan gaya tua renta seperti pujangga miskin yang sengsara !

Bunjin adalah sebuah gaya seni Bonsai yang sangat penuh filosofi budaya, romantika lirikal sastra, makna intelektual; kaya akan garis dan bentuk yang ekspresionis imaginatif; sehingga dalam cara appresiasinya-pun memerlukan tingkatan wawasan yang memadai dengan renungan dan penafsiran, disertai pemahaman estetika yang kontekstual.

Bunjin adalah sebuah karya yang sangat personal karena di dalamnya terkandung emosi sang artis yang sangat meditative dan contemplative. Dalam hal ini, objek pohon tersebut sekedar medium bagi sang artist dalam merefleksikan gagasan yang ingin disampaikan baik secara implicit maupun eksplicit.

Pada salah satu literatur seni Penjing yang ditulis oleh Shao Hai Zhong, seorang Master Penjing di Shanghai, dirumuskan beberapa karakter dan kriteria Bonsai gaya Bunjin sesuai dengan karakter kaligrafi Cina.

”Zhong xin ping wen”

Penerapan konsep komposisi yang asimetris tetapi berimbang dengan fondasi yang kokoh. Dalam seni kaligrafi Cina, walaupun setiap guratan garis individu bisa saja terkesan kegelisahan yang tidak berimbang, tetapi pada komposisi keseluruhan harus tetap menampilkan keseimbangan yang harmonis.

Sebagai contoh, karya salah seorang maestro kaligrafi Cina, Zhang Da qian justru terkenal karena karakter garisnya yang tidak berimbang, tetapi terbingkai dalam suatu komposisi yang unik dan berkarakter.

Dalam hal ini, ukuran dan bentuk wadah tanam menjadi salah satu elemen komposisi yan sangat penting dalam menunjang keseimbangan penampilan keseluruhan.

“Dou zhong qiu zheng”

Penerapan konsep keseimbangan visual (visual balance). Walau ritme pohon tidak tegak vertical dan penuh dengan gerak yang dinamis dan dramatis, tetapi keseimbangan visual yang harmonis sangat penting. Setiap liukan harus diimbangi dengan manuver yang menghasilkan keseimbangan visual.

“Shang mi xia shu”

Bunjin adalah suatu gaya yang meniru seni kaligrafi Cina. Struktur kanopi, penempatan percabangan dan ranting serta garis utama batang harus mengesankan kesederhanaan yang ramping dan anggun.

Bunjin harus mampu merefleksikan nuansa yang lirikal, puitis dan romantis.

“Shu mi de yu”

Lebat tetapi tidak rumit. Alur cabang dan ranting harus jelas dan transparan. Ada istilah “Mi ke yong zhen, xu ke pao ma” yang menjelaskan konsep ruang kosong. Penataan ruang kosong pada gaya ini sangat penting dan dituntut suatu kejelian tinggi dalam teori komposisi.

“Chan cha bian hua”

Alur, ritme, tekukan, pelintiran gerak batang, cabang dan ranting harus bervariasi, dinamis dan tidak monoton; tetapi tidak terkesan kontradiktif dan chaos. Dalam gaya Bunjin, garis dasar yang dipakai bisa saja tergabung dari beberapa jenis karakter garis ( ump. garis zigzag yang energik disertai dengan maneuver garis meliuk dan di-release dengan tarikan garis yang luwes); tetapi sangat dibutuhkan kepiawaian dalam pengolahan garis-garis tersebut sehingga terkemas dalam suatu harmonisasi yang sinkron dan sinergis.

“Qu rou zhi gang”

Alunan ritme dan gerak harus lembut, tetapi goresan harus penuh energi dan tenaga ibarat gerak senam “Taichi”. Kombinasi antara guratan yang tegas harus diimbangi dengan tarikan yang luwes sehingga terjadi suatu keseimbangan energi yang sinkron dan harmonis. Hal tersebut tidak terlepas dari filsafat “Yin & Yang” yang mengutamakan keseimbangan universal dengan aliran “Qi” yang sempurna.

Oleh sebab itu, ada suatu ilmu di mana melalui goresan dan gerak tulisan; karakter, emosi dan kondisi kesehatan seseorang dapat dibaca.

Dari uraian di atas, seyogianya gaya Bunjin kita terjemahkan sebagai “Gaya Kaligrafi”, dan bukan “Tua renta” !




Artikel ini ditulis oleh Robert Steven di Forum Hobby Indonesia

Kamis, 16 Agustus 2012

Exposed root / Neagari / Akar terlihat

















Secara umum, gaya bonsai ini lebih menonjolkan akar sebagai kekuatan utamanya, menggambarkan sebuah pohon yang bertahan dari kerasnya alam dan biasanya di alam bebas, tanah longsor adalah penyebabnya.

Kamis, 07 Juni 2012

Twisted trunk / nejikan / batang terpelintir










Gaya bonsai ini lebih menonjolkan keindahan alur batang yang seolah olah terpelintir, menggambarkan kekuatan pohon yang bertahan hidup di tengah keganasan alam yang tidak bersahabat.